Jumat, 12 Maret 2021

,
Hai, bagaimana harimu? Hari ini hari yang membuatku bersemangat setelah berjanji pada diri sendiri bahwa aku akan berusaha untuk berlaku, berpikir dan berkata lebih dewasa. Ku awali semua dengan semangat. Kukerjakan apa yang bisa kukerjakan. Handphone ku biarkan di meja dan aku tak seperti biasa melihat hal-hal seru di handphone. Ya, karena aku sibuk bekerja. Aku senang dengan kesibukanku. Tidak terlalu mengambil tenaga, hanya saja perkataan orang lain cepat mempengaruhi moodku. Tapi aku mengganggapnya sebagai tantangan untuk kedewasaan emosiku. Ya, hari ni berjalan dengan baik, pikirku. Tapi jam 18:30 aku dikejutkan oleh abangku yang mengatakan bapakku sangat kedinginan. Saat itu aku dan kakakku baru kembali dari tempat jualan kakakku. Aku tersontak kaget. Ada apa ini, pikirku. Dan kulihat ayahku sedang di depan api arang dengan laku sangat kedinginan. Beberapa hari/minggu kemarin merupakan masa-masa sibuk. Wajar bila ia sedang tak sakit. Tapi aku tak menyangka separah ini. Ia lemas, kedinginan dan pucat. Bahkan sempat-sempatnya ia berbicara hal-hal yang tak kumengerti tentang pekerjaannya supaya kami pahami bila ia pergi. Aku hanya diam mendengarkan itu semua. Tak ingin ku mengerti apa yang ia katakan. Pikiranku campur aduk. Oh Tuhan... begitu keluhku. Kami 6 bersaudara sangat kaku dalam mengungkapkan apa yang kami rasakan. Aku memilih diam saja dengan berbagai pikiran di otakku. Sedangkan yang lain mengekspresikannya dengan caranya sendiri. Tapi jika kau melihat laku kami, kau akan menganggap kami adalah orang aneh. Ya aneh... Kami terlalu gengsi untuk peduli, walau sebenarnya kami memikirkannya. Huh... tentu saja aneh ini tak seharusnya dipelihara. Petugas kesehatan sudah dipanggil. Dan setelah datang, mereka langsung menyarankan untuk diinfus dan memberi beberapa obat yang mengurangi sakit tersebut. Terus terang aku belum siap jika bapak pergi. Oh Tuhan... beri mujizat-Mu. Aku berkata demikian. Dalam pikiranku yang ambyar kenapa bisa begini, aku lemas. Tapi kukan berharap selalu bagi-Mu. Apa yang Kau rencanakan aku tak tahu Tuhan. Yang ku tau adalah, bahwa Kau tau apa yang sedang kami alami dan Kau akan beri kemenangan, kesembuhan atau apa yang terjadi saat ini. Begini bunyi firman-Mu dalam Lukas 1:37, “Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.” Tuhan, jika ada kesalahan, kekurangan kami, ampuni ya Bapa. Ampuni kami, perkenanan-Mu yang kami rindukan. Jangan ambil kemuliaan-Mu ya Bapa dari pada kami anak-anak-Mu. Ajar kami mengerti kehendak-Mu. Di dalam nama-Mu, Yesus yang Ajaib, sumber kesembuhan aminnnn. Doakan keluarga kami ya, Tuhan memberkati kita. Ini kisahku. Mana kisahmu bersama-Nya?

Rabu, 10 Maret 2021

,
Hai, ini tentangku. Telah ku mulai dari dulu untuk menulis berbagai kisah yang terjadi di setiap waktu. Hanya saja kadang aku menulisnya di kertas yang akhirnya lapuk. Jadi, aku berjanji untuk menulis luar biasanya Tuhan bekerja dalam hidupku. Mungkin kau akan berpikir biasa saja, tetapi entahlah... ada rasa syukur bagiku setiap membaca buku harian yang pernah ku tulis. Jadi, aku akan menulis apa yang kurasakan, kupikirkan dan kulakukan. Jam 23:28 aku sudah mulai menulis ini. Ya, sebelum wisuda aku sudah berjanji akan menulis kisahku bersama-Nya. Rabu, 10 Maret 2021 aku wisuda. Tentu aku sangat bersyukur. Tetapi mungkin orang lain berkata aku tidak bersyukur. Soalnya aku tak bersalon, berbaju cantik, bermake-up seperti mereka. Aku salut dengan diriku yang berani tampil beda ngomong-ngomong. Oke kembali ke kisah. Pagi tadi jam 5 aku bernyanyi dan berdoa. Aku menyadari bahwa Dia adalah kekuatanku. Begini lirik lagunya, Engkaulah kekuatanku, tempat perlindunganku Saat badai menerpa aku tak akan goyah, Aku takkan goyah, s’bab Kau sertaku Sejauh langit dari bumi, begitu besarnya kasih-Mu Penuhi hati kami yang rindu Menyembah-Mu Yesus, Sejauh langit dari bumi, begitu besar-Nya kasih-Mu Kaulah Tuhan kekuatanku, sukacitaku Lagu ini mengingatkanku akan kasih-Nya yang sungguh besar. Aku bangga memiliki-Nya, Ia sumber kekuatanku, Ia sumber perlindunganku, Ia adalah tempat pengaduanku. Terimakasih Tuhan, untuk segalanya. Wisuda ini sangat ku syukuri. Tentu saja ku tak mampu menyelesaikannya tanpa Tuhan yang ada bersamaku. Apalagi banyak tantangan yang bergejolak di seluruh anggota tubuhku untuk menyelesaikan ini. Baik dari kepala sampai kaki, semua seakan tak bersatu untuk mencapai gelar ini. Ya, saat itu aku andalkan kekuatan sendiri. Terus terang hubunganku dengan Tuhan sangatlah tak baik. Tetap aku aktif dalam pelayanan, aku berlaku tidak jahat. Tetapi sayangnya seperti tak berTuhan. Aneh memang, iya itu saat aku sangat terpuruk akan beberapa kejadian hidup yang takkan terubah lagi. Jadi, saat itu aku mati rasa dan jauh dari Tuhan. Benar bila aku terlambat untuk wisuda 1 tahun. Kecewa, ya... tapi pada diri sendiri. Dan akhirnya harapanku setelah wisuda ini adalah bahwa aku akan berusaha untuk menjadi lebih dewasa dalam perkataan, tingkah laku dan pemikiranku. Aku berdoa agar hikmat dari Tuhan membuatku bijaksana dalam menjalani setiap hari yang Tuhan beri. Ya, setiap hari adalah anugerah. Dan aku akan mensyukurinya, menjalaninya dengan sukacita dan menjadi terang dalam dunia yang gelap. Kau tau, bahwa aku sangat susah untuk menguasai diriku. Misalnya bersekutu dengan Tuhan, aku lebih sering tidak serius dan menganggap enteng. Hadehh... tentu saja hal itu salah. Apalagi kemalasan yang ku nomor satukan dalam hidupku. Perjuanganku menjadi lebih dewasa yang sungguh sepertinya akan dimulai saat ini. Jadi, semangat bagimu yang juga dalam menjalani hidup. Tuhan memberkatimu sekalian. Mari kita berjuang untuk lebih baik dari masa ke masa, dan menjadi seperti Yesus pada akhirnya. Selamat malam menjelang pagi, kuucapkan. Ini kisahku bersama-Nya. Bagaimana kisahmu?

Follow Us @soratemplates