Kamis, 18 Juli 2019

PERANAN KONSELOR MENOLONG KONSELI


Nama Anggota Kelompok 7
01. Ribka E. Rumahorbo
02. Josua Simanungkalit
Sem/Grup      : VIII/D
Mata Kuliah  : Konseling Kristen
D. Pengampu : Dr. Wilson Simanjuntak, M

“PERANAN KONSELOR MENOLONG KONSELI”

BAB I
PENDAHULUAN

Rogers mengartikan konseling sebagai hubungan membantu di mana salah satu pihak (konselor) bertujuan meningkatkan kemampuan  dan  fungsi  mental  pihak  lain  (klien),  agar  dapat  menghadapi persoalan / konflik yang dihadapi dengan lebih baik (Namora, 2011 : 2).
Dalam menjalani kehidupan, seseorang senantiasa memiliki permasalahan kehidupan, baik pribadi maupun social. Berbagai permasalahan yang dihadapi manusia, baik pada usia anak-anak, remaja, maupun dewasa sangatlah kompleks. Permasalahan  tersebut  tidak  cukup  dibiarkan  begitu  saja,  melainkan membutuhkan pemecahan yang solutif dan bijak.
Contohnya seorang mahasiswa yang belum mendapatkan judul skripsinya, tentu akan memerlukan nasehat dari orang lain. Bagaimana caranya si mahasiswa akan menghadapi itu? Apakah akan menyerah atau pindah kampus? Atau ditidurkan saja skripsinya? Atau masih adakah harapan untuk bangkit? Masih adakah jalan? Bagaimana solusinya? Kemudian seorang mahasiswa diputuskan pacarnya padahal dia sudah cinta mati, kata anak muda. Apa yang akan dia lakukan? Apakah bunuh diri supaya dia tidak sakit hati lagi? Ataukah memperjuangkannya atau mencari yang lain? Si mahasiswa perlu dibimbing dan dikuatkan dan diberi solusi untuk melalui semua itu. 
Rumitnya permasalahan kehidupan di mana biasanya menyangkut masalah psikis membutuhkan jawaban secara baik. Di sini diperlukan nasihat yang baik dan benar dalam menghadapi anak bimbing agar mereka kembali menemukan religious insight, sehingga anak bimbing dapat kembali termotivasi dalam menjalani kehidupan ini (Munir, 2010:161).
Maka kita akan membahas apa sebenarnya peranan konselor untuk menolong konseli. Berikut adalah pembahasannya.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Defenisi

1.      Konselor
Menurut KBBI, konselor adalah 1 anggota (staf) perwakilan di luar negeri, kedudukannya di bawah duta besar dan bertindak sebagai pembantu utama (pemangku) kepala perwakilan; 2 orang yang melayani konseling; penasihat, penyuluh.
Pengertian yang kita pakai pada pembahasan ini adalah pada pengertian nomor dua.

2.      Konseli
Menurut KBBI, konseli adalah orang yang membutuhkan nasihat (arahan).

Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli (disebut konselor/pembimbing), berupa nasihat, bimbingan, penguatan ataupun arahan kepada individu yang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien, sehingga dengan itu konseli akan mengalami semangat hidup yang menyala lagi.

B.     3 Kelompok sistem falsafah yang mendasari konseling

Ditinjau dari filsafat konseling, terdapat tiga kelompok sistem falsafah yang mendasari konseling, yakni  esensialisme, progresivisme, dan eksistensialisme.
  1. *  Dalam filsafat esensialitik menerima asumsi bahwa manusia adalah makhluk satu-satunya di dunia ini yang memiliki akal dan karena itu fungsi utama mempergunakan akal adalah untuk mengetahui dunianya dimana ia hidup. Sedangkan kebenaran adalah universal dan absolut dan manusia menemukan kebenaran dengan membedakan antara yang esensial dan yang tidak.
  2. *  Dalam filsafat progresivisme, lebih menekankan kepada perhatian terhadap hal-hal yang  langsung  dan  khusus  yang  dapat  dilihat  sebagai  realitas  dan obyek yang dapat dilihat, yang realistis dan membutuhkan pemecahan persoalan secara langsung.
  3. *    Dalam filsafat eksistensialisme, menekankan kepada kerinduan manusia untuk mencari sesuatu yang penting atau yang bermakna dalam dirinya. Sesuatu yang paling bermakna di dalam diri seseorang adalah eksistensi dirinya. Perhatian yang lebih besar terhadap pribadi, terhadap manusia daripada terhadap sistem yang formal. Konseling dari sudut filsafat eksistensialistik ialah keterlibatan konselor untuk mengalami bersama apa yang dialami klien, suatu respon empatik (empathic response)  yandiperlihatkan  konselor,  dalam usaha  merekonstruksi struktur pribadi yang bermakna pada konseli.


C.    Peranan Teori Konseling dalam Praktek Konseling

Dalam prakteknya, konseling adalah suatu layanan bantuan, sehingga dalam menjalankan fungsi dan peranannya seorang konselor harus berusaha untuk mengkonseptualisasikan proses konseling yang dilakukannya berdasar atas teori-teori yang telah dikembangkan, sehingga dapat lebih dipahami dan diimplementasikan secara tepat. Bagi konselor yang sudah berpengalaman, teori-teori yang ada dapat digunakan untuk lebih memahami tentang perilaku manusia berdasar atas peristiwa, gejala, fenomena yang terjadi dalam proses konseling. Sedangkan bagi konselor pemula atau yang masih mengikuti program pendidikan, di samping dapat dijadikan media untuk membantu memahami perilaku yang muncul berdasar atas gejala, peristiwa, atau fenomenanya, sekaligus dapat dijadikan penuntun atau pembimbing terhadap apa yang harus dilakukan dalam proses konseling.

Setiap  teori  konseling  diyakini  dapat  memberikan  sumbangan yang berharga bagi khasanah manusia dalam pemahaman konseling sebagai ilmu sekaligus dapat dimanfaatkan dalam praktek konseling. Hal ini tidak ubahnya dengan ilmu kedokteran yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh para dokter dalam menganlisis penyakit, mendiagnose sebab-sebab suatu penyakit, dan akhirnya dapat digunakan sebagai pedoman dalam pengobatannya secara tepat, termasuk dalam menentukan jenis obat dan dosisnya. Teori juga dapat dianalogkan dengan peta kota yang baik, yang dapat membantu seseorang memahami dimana letak suatu kota atau tempat-tempat tertentu, dan melalui rute mana saja kita bisa mencapainya dengan efisien. Dengan demikian dengan menyandarkan kepada teori, akan memudahkan bagi seorang konselor dalam menentukan arah proses konseling.

Dalam merespon pernyataan klien seorang konselor harus melakukannya berdasar atas dugaan tentang makna yang dikemukakan klien, apakah makna pernyataan tersebut dalam kehidupan klien, apakah sesuai dengan tujuan konseling, apa fungsi konselor, apakah teknik-teknik yang dapat berhasil untuk mengerakkan ke arah tujuannya.

Suatu teori pada hakekatnya dilatarbelakangi oleh berbagai hal, mulai dari latar belakang kehidupan atau paham pribadi, latar belakang sosial, sejarah, dan paham filsafat tertentu yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu dalam mengimplementasikan teori harus hati-hati serta memperhatikan berbagai aspek secara komprehensif. Secara umum, dalam konseling tidak disarankan untuk menggunaan   teori tunggal (single theory) untuk semua kasus atau memaksakan penggunaan satu teori tertentu sehingga menjadi kaku. Akan lebih efektif dan efisien apabila seorang konselor mampu mengembangkan kreasinya dengan mencoba untuk memilih secara selektif bagian-bagian dari beberapa teori yang relevan, kemudian secara sintesis-analitik mencoba menerapkannya kepada kasus yang dihadapi.  Cara  ini  disebut  sebagai  pendekatan  Creative-Synthesis- Analytic (CSA) atau pendekatan elektik.

Mengingat pentingnya teori dalam praktek konseling, maka dalam implementasinya sebaiknya memilih teori-teori yang dianggap baik. Secara umum teori yang baik memiliki 5 atribut formal, yaitu :
(1) jelas, dapat dengan mudah dipahami oleh pembacanya, serta tidak bertentangan
(2) komprehensif, memiliki skope dan account untuk banyak tingkah laku, dapat menjelaskan apa yang terjadi pada banyak orang  dalam  banyak  situasi,  atau  mampu  menjelaskan  fenomena secara menyeluruh,
(3) eksplisit, memiliki ketepatan, karena setiap penjelaan  didukung  dengan  data-data  yang  dapat  diuji,  
(4) parsimonious, sederhana, tidak menjelaskan fenomena secara berlebihan, jelas, mampu merangsang peneliti untuk mengembangkan teorinya (Burk dan Stefflre, 1979).


D.    Peranan Konselor Menolong Konseli

1.      Peranan Konselor (Masyarakat sebagai Konseli)
Dalam kaitannya terhadap peranan seorang konselor di masyarakat, seorang konselor mempunyai fungsi untuk membantu masyarakat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya.
Sehubungan dengan fungsi tersebut, maka seorang konselor mempunyai tugas-tugas tertentu, yaitu:
1.      Mengadakan penelitian atau observasi terhadap situasi atau keadaan masyarakat
2.      Berdasarkan atas hasil penelitian  atau observasi tersebut maka konselor berkewajiban memberikan saran-saran ataupun pendapat kepada masyarakat demi kebaikan masyarakat tersebut
3.      Menyelenggarakan bimbingan terhadap masyarakat, baik yang bersifat preventif, preservatif, maupun yang bersifat korektif
·         Yang bersifat preventif yaitu dengan tujuan menjaga jangan sampai masyarakat mengalami kesulitan, meenghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan
·         Yang bersifat preservatif ialah usaha untuk menjaga keadaan yang telah baik agar tetap baik; jangan sampai keadaan yang baik menjadi keadaan yang tidak baik
·         Yang bersifat korektif ialah mengadakan konseling kepada masyarakat yang mengalami kesulitan yang tidak dapat dipecahkan sendiri dan yang membutuhkan pertolongan dari pihak lain
4.      Selain itu, konselor dapat mengambil langkah-langkah lain yang dipandang perlu demi kesejahteraan masyarakat.

2.      Peranan Konselor (Warga sekolah sebagai Konseli)
Secara umum tugas konselor sekolah adalah bertanggung jawab untuk membimbing peserta didik secara individual sehingga memiliki kepribadian yang matang dan mengenal potensi dirinya secara menyeluruh. Dengan demikian diharapkan siswa tersebut mampu membuat keputusan terbaik untuk dirinya, baik dalam memecahkan masalah mereka sendiri maupun dalam menetapkan karir mereka dimasa yang akan datang ketika individu tersebut terjun di masyarakat.
Kemudian secara khusus peranan konselor di sekolah adalah (1) memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling, (2) menyusun program bimbingan dan konseling, (3) melaksanakan bimbingan dan konseling, (4) mengevaluasi hasil pelaksanaan bimbingan dan konseling, (5) menganalisis hasil evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling, (6) tindak lanjut pelaksanaan bimbingan dan konseling. (7) membimbing konselor sekolah (bagi guru pembina s/d guru utama).(8) mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatannya dalam pelayanan bimbingan dan konseling secara menyeluruh kepada koordinator bimbingan dan konseling dan kepala sekolah.

3.      Peranan Konselor (Gereja sebagai Konseli)

Pelayanan melalui konseling di dalam gereja perlu kita pikirkan dan kembangkan. Pertama, karena warga gereja adalah individu dan kelompok yang hidup di dunia yang sudah tentu penuh dengan tantangan, tekanan, hambatan, penderitaan, kesakitan bahkan penganiayaan. Manusia dicipatakan Allah dengan dua kodrat (sifat), yaitu kodrat lahiriah (jasmani) dan rohani (spiritual). Dengan kondrat lahiriahnya semua manusia terbatas, lemah, tidak kebal terhadap penyakit bahkan terhadap kematian. Dengan kodrat illahinya, manusia mempunyai kerinduan yang dalam untuk berhubungan dengan Allah dalam setiap kesempatan dan situasi hudupnya. Artinya, solusi terhadao persoalan hidupnya tidak bisa di dapat hanya dari sudut lahiriaih. Manusia tidak bisa kenyang oleh karena roti dan kesuksesan materialnya; karena keindahan dunia, atau karena kuasa serta kekuatn yang didapat dari dunia ini (Matius 4:1-11). Gereja harus mengajak warganya untuk mencari jawaban-jawaban hidup dari petunjuk illahi, yaitu dari firman, kuasa dan kehadiran (bimbingan) Allah. 
Kedua, pentingnya tugas konseling dalam gereja ini juga diperlihatkan oleh beberepa perikop firman Tuhan. Pertama, 1 Petrus 5:1-4 mengemukakan bahwa penatua gereja adalah gembala, pengarah iman, pembimbing dan pendorong semangat orang-orang percaya. Mereka memberi pengarahan iman ditengah-tengah banyaknya kepalsuan pengajaran. Mereka memberikan bimbibingan berkaitan dengan hidup rumah tangga, dan hidup kerohanian. Mereka dituntut memberikan dorongan berupa perkataan dan perbuatan yang membangun karena jemaat menghadap tekanan batiniah, bahkan tekanan yang nyata secara sosial, kultural dan politik. Sebagai gembala penatua harus memerankan tugasnya seperti disebutkan oleh Mazmur 23:1-6 yakni: mengenal, memelihara, memebrikan hiburan bagi warganya. Mereka juga meneladani Yesus Sang Gembala yang mengenal kebutuhan daoba-domba-Nya, bahkan rela memberikan diri dan kehidupan-Nya (Yohanes 10:10, 14-18).
Kedua, Yakobus 5:14-16 menasehatkan agar penatua rajin mendoakan warganya yang sedang dilanda kesakitan. Tidak semua penyakit karena kuman. Banyak penyakit terjadi karena kelemahan emosi, kelelhan pikiran, bahkan karena kehampaan (kekosongan) rohani (spiritual). Nah, para penatua perlu membangun semangat mereka, melalui nasehat, dorongan, ajaran yang banar serta melalui doa, yang sungguh-sungguh. Elia dikemukakan Yakobus sebagai orang benar yang berdoa, dan doanya dijawab oleh Tuhan. Doa merupakan permohonan kepada Allah agar Ia menyingkapkan apa sebenarnya yang terjadi dalam di seseorang yang kita doakan.

Ketiga, Ibrani 10:24-25 mengajak jemaat untuk saling membangun khususnya dalam masa kesukaran. Kolose 3:15-17 mengajak jemaat untuk saling mengajar  dan menegur dengan dasar bahwa mereka dikuasai oleh damai sejahtera dan kasih Yesus Kristus. Bukan oleh kebencian atau kecemburuan atau kecemburuan atau niat-niat negatif lainnya. Galatia 6:1-4 mengisayaratkan pentingnya memberikan bimbingan bagi saudara-saudara seiman yang sedang menghadapi “pencobaan dan godaaan” agar mereka bangkit kembali dalam jalan kebenaran. Kita harus bersikap lemah lembut, ramah dan sabar sambil menjaga diri agar tidak ikut terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri agar tidak ikut terjerumus. Juga disebut perlunya menguji diri apakah kita dalam kondisdi yang benar dan teguh iman. Matius 18:15-20 mendesak jemaat untuk mendapatkan kembali saudara yang telah melakukan pelanggaran. Kasusnya harus diperiksa secara teliti, supaya dapat memberikan nasehat. Perlu ada dua atau tiga orang saksi. Kalau sekiranya yang bersangkutan menolak mengakui kesalahannya serta menolak untuk berubah, barulah jemaat menyatakan disiplin. 1 Tesalonika 4:13-18 menegaskan perlunya kita memberikan konseling peneguhan dan penghiburan bagi mereka yang ditimpa dukacita. Harapan mereka kepada Yesus yang akan datang itu perlu dibangkitkan. 2 Tesalonika 3: 11-15 memberi dorongan bagi kita untuk membina saudara seiman yang tidak tertib hidupnya. Mereka ini sibuk dengan dirinya sendiri, menggosip orang-orang lain dan tidak bekerja untuk hidup keluarganya.


BAB III
PENUTUP

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa konselor adalah orang yang memberi nasihat atau pengarahan sedangkan konseli adalah orang yang memerlukan pengarahan atau nasihat untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna lagi dan lebih semangat.
Seorang konselor memiliki peran untuk menolong konseli dengan kemampuan yang ia sudah miliki. Dan juga ia harus menyesuaikan konselingnya dengan wadah terte
ntu. Misalnya di sekolah, di masyarakat, dan di gereja tentu berbeda setiap kebutuhan nasihat konseli.




Referensi:
01. KBBI versi Online
05. Makalah: Fungsi Teori dalam Konseling, Sunardi, PLB FIP UPI, 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Us @soratemplates